*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Warning: getimagesize(news/attachements/balikpapangolfrev.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player


Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 02 Februari 2013 | 16.24
FKK Hulu Migas Dorong Terciptanya Iklim Ivestasi Kondusif

Egenius Soda
egenius@majalahtambang.com

Jakarta-TAMBANG.Sektor migas sampai saat ini masih menjadi salah satu sumber pendapatan negara. Oleh karenanya Pemerintah menaruh perhatian yang sangat besar pada iklim investasi di sektor ini untuk mendorong peningkatan produksi migas. Hal ini hanya akan tercapai jika iklim investasi di sektor hulu migas terjaga dengan baik. Oleh karenanya Forum Komunikasi Kehumasan (FKK) Industri Hulu Migas berharap semua pihak ikut menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi investor migas.

Dalam beberapa bulan terakhir sektor hulu migas mendapat ujian berat salah satunya berupa pembubaran Badan Pelaksana Usaha Hulu MInyak dan Gas Bumi (BPMIGAS). Meski Pemerintah cepat tanggap dengan mengambil langkah membentuk lembaga pengganti mulai dari Satuan Kerja Sementara Pengusahaan Migas (SKSP Migas) dan kemudian berganti nama menjadi Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas). Namun kondisi saat itu sempat menimbulkan kepanikan pelaku usaha di sektor migas.

Bagi FKK Hulu Migas iklim usaha yang kurang kondusif akan membuat investor ragu bahkan menunda menanamkan modalnya di sektor hulu migas. Apalagi investasi di sektor hulu migas dikenal berisiko tinggi dan juga padat modal. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak di saat Indonesia sedang berjuang meningkatkan produksi migas.

Ketua FKK Industri Hulu MIGAS Joang Laksanto mengakui sejak mencapai puncak produksi (yang kedua) lebih dari 1,6 juta barrel per hari di tahun 1995, penurunan produksi minyak terus terjadi. Saat ini, tingkat produksi harian hanya mampu dikisaran 830.000 atau separuh dari puncak produksi tahun 1995. Setiap tahun pun target lifting minyak APBN hampir selalu tak pernah tercapai.

Tidak hanya itu ketika berbicara tentang cadangan terbukti minyak dari tahun ke tahun menunjukkan grafik penurunan dari 5,2 miliar barrel menjadi hanya di kisaran 4 milliar barrel. Kondisi inilah yang harus diperhatikan secara serius oleh semua pihak.
FKK pun sepakat bahwa investasi eksplorasi harus ditingkatkan demi meningkatkan produksi dan cadangan migas. “Lewat eksplorasi kita akan menemukan lapangan baru dengan cadangan minyak/gas skala besar,”jelas Joang

Selain itu untuk meningkatkan produksi, pemanfaatan teknologi EOR/Enhanced Oil Recovery) juga perlu didorong mengingat lapangan migas Indonesia sebagian besar adalah lapangan tua. Namun kembali lagi Investasi baik untuk EOR maupun eksplorasi skala besar hanya akan ada jika iklim investasi hulu migas kondusif.

FKK menilai Iklim investasi yang kondusif akan tercipta antara lain jika ada kepastian aturan main dari pengelolaan hulu migas nasional. Ini dapat dimulai dengan draft revisi UU No. 22 tahun 2001 tentang Pengelolaan Usaha Hulu Migas diharapkan untuk segera disetujui., “Marilah kita kawal bersama untuk kepentingan bangsa dan negara agar draft revisi UUmigas yang saat ini sedang dibahas secepatnya disetujui oleh DPR,”jelas Joang.

icon