*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
Warning: getimagesize(news/attachements/balikpapangolfrev.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Alternative content

TAMBANG, 03 Februari 2013 | 09.23
Listrik Murah First Solar, Bisa Sulitkan Indonesia
Suryana Miharja
suryana@majalahtambang.com
First Solar Inc. perusahaan pembuat panel surya terbesar di dunia, kemungkinan akan menjual listrik di bawah harga yang dijual oleh pembangkit listrik yang menggunakan energi batubara.
Menurut order penjualan dari The New Mexico Public Regulation Commission, El Paso Electric Co. sepakat untuk membeli listrik dari First Solar Inc. dari proyek pembangkit listrik Macho Springs Dengan kapasitas 50 mega watt seharga US$ 5,79 sen per kwh (kilo watt hour) atau dengan kurs rupiah hari ini sebesar Rp, 9,708.46762 per dollar Amerika maka listrik First solar dibeli El Paso hanya seharga Rp. 562.12 per kwh.
Harga listrik Macho Springs adalah “harga pembelian listrik tenaga matahari yang paling murah yang pernah kami lihat,” ungkap seorang analis Maxim Group LLC di New York Aaron Chew melalui sebuah surat elektronik.
Sementara itu, tarif dasar listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berlaku per 1 Juli 2010 dan akan mengalami kenaikan pada tahun 2013 ini sebesar 15 persen hingga akhir tahun, jika mengambil pelanggan rumah tangga dengan daya daya 1.300 VA maka tarif listriknya sebesar Rp 790 per kWh atau sebesar 908,5 per kwh pada akhir tahun 2013.
Ironisnya lagi, seperti dikemukakan oleh pengamat Migas DR Kurtubi, dalam sebuah seminar di Gedung Dewan Pers pada bulan Januari lalu, pemerintah tidak pernah serius untuk mengembangkan energi baru terbarukan.
Pada kondisi tersebut bisa dibayangkan, seandainya First solar melakukan ekspansi bisnis besar-besaran maka bukan tidak mungkin harga batubara dunia bakal kembali tertekan, seperti ketika pasokan shale gas “memukul” harga batubara. Padahal pendapatan dari sektor pertambangan khususnya batubara masih menjadi sektor yang diandalkan oleh pemerintah Indonesia.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh aktivis Walhi Dedy Ratih yang ditemui di Kantor pusat Walhi di Tegal Parang Jakarta Selatan (1/2), menurutnya pada saat negara-negara maju mulai menguasai teknologi energi baru terbarukan seperti teknologi pemanfaatan tenaga matahari, maka Indonesia kembali akan kesulitan mencapai ketahanan energi.
Walhi sendiri di daerah yang jadi pendampingannya seperti di Loksado Kalimantan Selatan, telah lama mengembangkan listrik memanfaatkan teknologi microhydro, atau memanfaatkan aliran sungai untuk pembangkit listrik. Dedy menuturkan, warga sekitar dibekali Walhi pengetahuan tentang bagaimana seluk beluk teknologi microhydro, hingga akhirnya warga yang dilatih itu bukan hanya terampil melakukan perawatan rutin dan memperbaiki kerusakan, tetapi sudah pandai merakitnya jika ada desa lain yang memerlukan.
Bagi Walhi, program pembangkit listrik microhydro yang digagasnya bisa membuat masyarakat dalam skala kecil memiliki kemandirian energi, selain memudahkan Walhi untuk menyadarkan masyarakat untuk turut menjaga lingkungan, terutama kawasan hutan disekitarnya, karena masyarakat bisa merasakan langsung dampaknya.
Apa yang dilakukan Walhi adalah upaya untuk memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Selain lingkungan terjaga, kemandirian energi dalam skala kecil pun tercapai. (blbg dan sumber lain)
Listrik Murah First Solar, Bisa Sulitkan Indonesia
Suryana Miharja
suryana@majalahtambang.com
First Solar Inc. perusahaan pembuat panel surya terbesar di dunia, kemungkinan akan menjual listrik di bawah harga yang dijual oleh pembangkit listrik yang menggunakan energi batubara.
Menurut order penjualan dari The New Mexico Public Regulation Commission, El Paso Electric Co. sepakat untuk membeli listrik dari First Solar Inc. dari proyek pembangkit listrik Macho Springs Dengan kapasitas 50 mega watt seharga US$ 5,79 sen per kwh (kilo watt hour) atau dengan kurs rupiah hari ini sebesar Rp, 9,708.46762 per dollar Amerika maka listrik First solar dibeli El Paso hanya seharga Rp. 562.12 per kwh.
Harga listrik Macho Springs adalah “harga pembelian listrik tenaga matahari yang paling murah yang pernah kami lihat,” ungkap seorang analis Maxim Group LLC di New York Aaron Chew melalui sebuah surat elektronik.
Sementara itu, tarif dasar listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang berlaku per 1 Juli 2010 dan akan mengalami kenaikan pada tahun 2013 ini sebesar 15 persen hingga akhir tahun, jika mengambil pelanggan rumah tangga dengan daya daya 1.300 VA maka tarif listriknya sebesar Rp 790 per kWh atau sebesar 908,5 per kwh pada akhir tahun 2013.
Ironisnya lagi, seperti dikemukakan oleh pengamat Migas DR Kurtubi, dalam sebuah seminar di Gedung Dewan Pers pada bulan Januari lalu, pemerintah tidak pernah serius untuk mengembangkan energi baru terbarukan.
Pada kondisi tersebut bisa dibayangkan, seandainya First solar melakukan ekspansi bisnis besar-besaran maka bukan tidak mungkin harga batubara dunia bakal kembali tertekan, seperti ketika pasokan shale gas “memukul” harga batubara. Padahal pendapatan dari sektor pertambangan khususnya batubara masih menjadi sektor yang diandalkan oleh pemerintah Indonesia.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh aktivis Walhi Dedy Ratih yang ditemui di Kantor pusat Walhi di Tegal Parang Jakarta Selatan (1/2), menurutnya pada saat negara-negara maju mulai menguasai teknologi energi baru terbarukan seperti teknologi pemanfaatan tenaga matahari, maka Indonesia kembali akan kesulitan mencapai ketahanan energi.
Walhi sendiri di daerah yang jadi pendampingannya seperti di Loksado Kalimantan Selatan, telah lama mengembangkan listrik memanfaatkan teknologi microhydro, atau memanfaatkan aliran sungai untuk pembangkit listrik. Dedy menuturkan, warga sekitar dibekali Walhi pengetahuan tentang bagaimana seluk beluk teknologi microhydro, hingga akhirnya warga yang dilatih itu bukan hanya terampil melakukan perawatan rutin dan memperbaiki kerusakan, tetapi sudah pandai merakitnya jika ada desa lain yang memerlukan.
Bagi Walhi, program pembangkit listrik microhydro yang digagasnya bisa membuat masyarakat dalam skala kecil memiliki kemandirian energi, selain memudahkan Walhi untuk menyadarkan masyarakat untuk turut menjaga lingkungan, terutama kawasan hutan disekitarnya, karena masyarakat bisa merasakan langsung dampaknya.
Apa yang dilakukan Walhi adalah upaya untuk memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat untuk kepentingan masyarakat itu sendiri. Selain lingkungan terjaga, kemandirian energi dalam skala kecil pun tercapai. (blbg dan sumber lain)

(1) komentar
Berita Lain
03 Februari 2013 | 09.23
Terbaik di Indonesia, Menteri ESDM Heran Tambang Bawah Tanah Freeport Runtuh
Terbaik di Indonesia, Menteri ESDM Heran Tambang Bawah Tanah Freeport Runtuh





