*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Warning: getimagesize(news/attachements/balikpapangolfrev.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player


Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 02 April 2012 | 02.23
Rakus Bikin Tidak Fokus

Cita-citanya menjadi sejarawan. Karena nasehat ibunya, doktor politik ini menjadi professional dalam bidang bisnis. Kelak akan kembali ke kampus dan menulis buku.

Dalam dunia finance dan investasi, nama Ridwan Zachrie, sangat tidak asing. Berbagai jabatan dan posisi di sejumlah perusahaan, pernah disandang pria kelahiran Jakarta 27 April 1969 ini. Salah satunya, pemilik nama ini, seolah tidak bisa dilepaskan dari mekarnya Recapital, perusahaan yang didirikan Sandiaga Uno dan Rosan Roslani.
Jejak Ridwan, suami dari Indrijani F. Zachrie ini, memang sangat dalam di tanah Recapital. Ia menggawangi Recapital sejak awal berdiri hingga memiliki puluhan unit usaha. Dari karyawan yang hanya beberapa orang, hingga berkembang menjadi ribuan jumlahnya.
Meski memiliki peran besar dalam memajukan Recapital Group, ia tidak ingin terus menghabiskan karier profesionalnya di sana. Tantangan baru coba dihadapi, sekaligus menguji kemampuan leadership-nya dengan menjadi pucuk pimpinan, Chief Executive Officer (CEO), di Tanri Abeng & son (Tason) pada 2011.
Awal 2012, tawaran lain datang menyambangi ayah empat anak ini. Ia diajak bergabung ke Killara Resources, perusahaan yang berasal dari Negeri Kanguru, Australia. Jika selama ini ia banyak bergelut pada perusahaan yang bergerak dalam keuangan dan pengelolaan aset, Killara memberi tantangan berbeda bagi lulusan terbaik universitas Trisakti 1991 ini, yaitu sektor pertambangan.
Killara Resources, perusahaan yang listed di bursa Australia ini, awalnya hanya memiliki konsesi mangan di Belu, Nusa Tenggara Timur. Perusahaan ini akan melakukan ekspansi di beberapa komoditi pertambangan, terutama emas dan batubara. Beberapa konsesi batubara sudah dimiliki, tinggal melakukan eksplorasi.
Jika saja doktor ilmu politik dari Victoria University of Wellington, Newzealand ini, tidak mengikuti saran ibunya, mungkin sekarang ia dikenal sebagai sejarawan, sebagaimana cita-cita masa kecilnya. Jalan bagi penulis buku ”Korupsi Mengkorupsi Indonesia” ini memang agak melenceng dari niat semula.
Kini, ia ”tersesat” dengan sengaja di ladang bisnis dengan menjabat posisi penting di berbagai perusahaan. Selain sebagai CEO Killara Resources, pria yang memulai karir profesional di Citibank ini, juga menjadi komisaris di Recapital Sekuritas, Asuransi Jiwa Recapital, dan juga Ketua Asosiasi Praktisi Manajemen Risiko.
Jika mau, ia bisa saja menerima tawaran puluhan jabatan lain yang ditawarkan kepadanya. Tetapi Ridwan memutuskan fokus pada Killara Resources, dengan mengembangakan perusahaan hingga menjadi perusahaan terpercaya. Ia juga tidak ingin dicap rakus. ”Greedy (rakus) bikin kita tidak fokus,” kata Ridwan.
Kepada Alamsyah Pua Saba, Heriyono dan fotografer Taufiequrrohman, peraih berbagai penghargaan ini berbagi cerita. Petikannya:

Kenapa Anda memutuskan bergabung dengan Killara Resources?
Ketika pertama kali saya bergabung dengan Killara, saya tanyakan kepada pemegang saham, baik yang personal maupun group yang terdiri dari orang-orang kaya di Australia, apa tujuan Killara di Indonesia. Apakah hanya sekadar memperbanyak portofolio atau mau melakukan eksplorasi dan penambangan pada umumnya.
Kalau mau memperbanyak portofolio, sah-sah saja, tetapi menurut saya, kalau sekadar memperbanyak portofolio, jangan masuk ke perusahaan tambang, masuk ke investment banking saja. Kalau mau masuk ke perusahaan tambang, ya harus nambang.
Mereka (shareholders) visinya saat itu akan menambang, makanya saya mau. Ternyata mereka sudah melihat saya sejak masih di Recapital, juga zaman di Tason. Saat negosiasi dengan Tason, saya juga yang lead, dari situ kemu-dian mereka tertarik.
Meski di-back up orang Australia, entity Killara adalah perusahaan Indonesia, karena itu yang memimpin harus orang Indonesia. Saya yakinkan pada mereka bahwa orang Indonesia banyak yang bagus-bagus. Jadi tidak harus ekspatriat, meski saya bukan anti ekspatriat.
Saya tahu, banyak teman yang punya potensi. Anak-anak muda maupun senior, jago-jago semu. Cuma nggak diberi kesempatan. Karena itu, kita harus banyak memberi kesempatan pada mereka. Orang kita tidak kalah dengan orang luar. Kalau diberi kesempatan, mereka bisa bersaing.
Selain itu, yang mengerti dan tahu karakter orang Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Cara kita berbicara dengan Bupati, Kepala Suku, berbeda kalau yang berbicara orang asing. Pendekatan kultural sangat penting, apalagi untuk bisnis tambang.
Kemudian saya tekankan bahwa, pendekatan utama yang akan dilakukan. Bukan datang langsung menambang dengan mengirim geologis, bila mendapat suatu konsesi. Tidak… bukan pendekatan seperti itu yang kami dilakukan. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengirim tim Community Development. Setelah ada pemahaman dan kerjasama dari masyarakat, baru kita mengirim tim teknis ke lapangan.

Apa yang sudah dilakukan Killara dalam kegiatan pertambangan di Indonesia?
Sesuai dengan misi awal kami bahwa kami ingin memberi nilai tambah, bukan hanya untuk perusahaan, tapi juga untuk masyarakat sekitar, maka konsesi yang akan ka-mi akuisisi merupakan konsesi yang bagus.
Dalam dua tahun terakhir, sekitar 200 konsesi masuk ke kami. Namun yang masuk dalam parameter kami, sekitar 10 konsesi, baik tambang emas maupun batubara. Kami rencanannya eksplorasi lima dulu, tiga di batubara dan dua di emas. Yang lain ada juga, mangan atau nikel, tetapi saat ini yang paling kita sukai, masih batubara dan emas.
Ketika mencari konsesi, kami langsung berhubungan dengan pemilik, tidak melalui broker. Kalaupun ada fasili-tator, mereka adalah trusted person, benar-benar bisa dipercaya, bukan sekedar punya foto kopi, atau melalui tangan kedua dan seterusnya.

Apa ada kriteria lain dalam mengakuisisi sebuah tambang?
Kami selalu mencari yang nilai ekonomisnya besar. Kalau dibawah 20 juta, nggak ekonomis. Atau kalau misalkan dibawah 20 juta ton, tapi konsesinya berdekatan dan kalau digabung punya nilai ekonomis juga, akan kita ambil. Kami tidak terpaku pada kalori tertentu, karena pada akhirnya semua kalori akan dipakai juga.

Bagaimana membangun perusahaan ini di tengah kompetitor yang terus bertumbuh. Apa kiatnya?
Saya bilang kepada shareholders bahwa dalam membangun perusahaan harus menjalin sinergi dengan perusahaan lain. Itu penting, terutama yang sudah ada. Kita punya eksperties, punya kemampuan tetapi kita tidak punya link. Karena itu, membangun link dengan perusahaan seperti Berau, Adaro, atau Bakrie penting dilakukan. Membangun sinergi positif. Akses kita bisa kemana-mana dan aturan mainnya jelas.
Dalam sinergi atau joint venture company, kita usahakan agar kita majority. Ya, bisa 80:20 atau 60: 40, tapi dalam beberapa kasus bisa juga 55:45, terutama untuk daerah yang menjadi incaran berbagai pihak. Karena daerah incar-an, dealing share-nya juga ketat sekali. Saat ini kita tengah melakukan joint venture company, baik dengan Adaro maupun dengan salah satu group Bakrie.

Kapan rencana melakukan eksploitasi?
Kita targetkan dalam waktu dekat, di Bintuni, Papua Barat. Mudah-mudahan sudah bisa closing dalam waktu yang tidak lama lagi. Kemudian di Kalimantan ada tiga tempat. Masa eksplorasi sekitar dua tahunan. Mungkin di Papua lebih lama karena persoalan infrastruktur.

Apa target Anda membawa Killara seperti perusahaan tambang terkemuka lainnnya di Indonesia?
Kami menargetkan melakukan IPO (Initial Public Offering) dalam tiga tahun ke depan. Salah satu portofolio kita akan di IPO-kan. Karena Killara sendiri sebenarnya sudah listed di Australia. Bisa saja nanti double listed di Austra-lia dan Indonesia atau Indonesia dan Singapura. Kalau perkembangannya bagus, bisa lebih cepat.
Sementara untuk 5-10 tahun ke depan, kita menargetkan menjadi perusahaan tambang terkemuka di Indonesia, setidaknya top ten. Kami yakin, dengan dukungan share holder yang kuat dan komitmen kita di Indonesia, kami bisa mencapai itu.

Apa Anda kesulitan menjadi CEO perusahaan tambang, karena sebelumnya banyak bergerak pada perusahaan finance? Apa kesulitan terbesarnya?
Kesulitan terbesarnya adalah adaptasi. Tetapi kan kita harus ngerti juga soal tambang. Masalahnya begini: idealnya seorang CEO tambang, harus orang tambang. Tetapi sekarang pada kondisi awal, perusahaan tambang membutuh-kan modal, investasi besar-besaran, itu dibutuhkan orang finance.
Harapan saya, orang yang berkecimpung di pertambangan, disamping menguasai industri tambang, juga ditambah kemampuan bisnisnya, finance-nya, harus itu. Apalagi kondisi di sektor tambang, pergerakannya cepat, setiap dapat konsesi baru, butuh pendanaan. Sementara pendanaan dari luar dan itu membutuhkan orang corporate finance yang tangguh. Nah itu biasanya orang finance.

Ketika memimpin perusahaan tambang, tantangan terberat saat mencari konsesi atau berhadapan dengan masyarakat lokal?
Kalau saya melihatnya lebih pada masyarakat. Bukan berarti lebih sulit, tapi kita harus memberi perhatian lebih pada community. Ketika deal akuisisi terjadi, aturan mainnya sudah jelas. Tetapi saat masuk ke masyarakat, meski sudah ada aturannya, tidak mudah. Itu menjadi tantangan kami.
Karena itu, kami punya rencana mengembangkan comdev, kita ada kerjasama dengan Binus (Bina Nusantara) untuk kajian comdev. Kita juga mau ada MoU dengan beberapa pihak lain di luar perusahaan, baik dengan universitas, dengan media, dengan NGO juga kita jalankan. Penting kita bangun sinergi dengan stakeholders.

Bicara soal reklamasi dan lingkungan, seberapa penting menurut Anda?
Yang selalu menjadi pembicaraan kita ada pada dua hal. Pertama soal community dan kedua, tentang lingkungan. Untuk community, kita punya visi, bagaimana memberi nilai tambah saat kegiatan pertambangan berlangsung. Ke-mudian saat berakhirnya kegiatan, masyarakat bisa terus mandiri. Langkah ini melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), sejak dini. Sejak awal kegiatan, bukan hanya saat perusahaan sudah kaya.
Kemudian soal lingkungan. Jangan sampai saat habis masa jayanya tambang, kita pergi dan lingkungan terbeng-kalai, bolong-bolong, itu yang kita pikirkan. Jadi saat kita masuk ke suatu area, dapat dipastikan soal lingkungan menjadi perhatian utama bersamaan dengan masyarakat. Hal itu dilakukan untuk menghindari akses yang tidak mengenakan di kemudian hari.

Kalau di daerah banyak kepentingan politik, pilkada dan sebagainya. Apakah Killara terkena imbasnya juga?
Dalam beberapa case kita juga sempat mengalami. Pemilik konsesi yang juga putra daerah setempat ingin jadi bupati, kemudian menawarkan konsesi untuk biaya pilkada.
Kalau berkaitan dengan konsesi, sepanjang itu bagus menurut penilaian kita, kita akan deal. Kita tidak ada kaitan dia mau gunakan dana itu untuk apa. Itu bukan cocern kami, sepanjang itu benar, milik dia, konsesinya bagus sesuai parameter kita, kita deal.
Kalau untuk yang lain kita nggak main di situ. Apalagi misalnya, ini si A, orang sangat berpengaruh, minta dukung-an dan janji sebagainya. It’s not the way we play. Rule the game-nya tidak begitu. Bahkan menurut saya, itu cara kuno. Didukung dulu, supaya nanti jadi bisa dikasih lahan atau konsesi tertentu. Itu bukan suatu cara yang sehat dan mendidik. Kalau kita ikuti cara itu, apa bedanya kita dengan yang lain.
Saya punya prinsip, kita tidak perlu greedy mau ambil sebanyak-banyaknya konsesi, menghalankan segala cara. Kita cukup ambil beberapa yang benar-benar bagus dan kita benar-benar commited mengembangkannnya, eksplorasi, itu aja. Sehingga kalau tahun ini ada 4 saja sudah cukup. Kita ambil 10 saja sudah maksimum dantidak mungkin bisa langsung semuanya dieksplorasi, karena resources terbatas.
Kita juga bisa melihat, mana yang kita jalankan sendiri dan mana yang mungkin butuh partner lain untuk menjalan-kan. Karena tidak mungkin semua dijalankan sendiri. Kita punya keterbatasan.
Kita tidak perlu terlalu ambisius sampai misalnya karena punya kekuatan dana, kita ambil semua. Kalau ambil semua, tapi kemudian tidak bisa maksimal, maka yang rugi kita sendiri. Kita juga tidak bisa berpikir secara efektif, efisien dan do not greedy. Kecenderungan orang yang punya duit, maunya semuanya diambil, greedy, semua mau di-miliki. Kalau kami lebih berpikir sistematis dan strategis ke depan.

karier, semuanya sudah dicapai. Apakah CEO Killara merupakan tempat terakhir?
Anak-anak saya pernah bilang: Pak ini kerja terus, kapan istirahatnya. Saya berpikir sampai usia 50 lah insya Allah. Setelah itu back to campus. Kira-kira, itu 10 tahun ke depan. Saya ingin membangun, bukan saja Killara, tapi juga masyarakat. Makanya sekarang saya sering ke daerah-daerah.

Tidak ingin menjadi pemilik tambang?
Hahahaha, bisa aja nih. Kita lihat saja ke depan, tidak menutup kemungkinan. Tetapi yang jelas, 10 tahun ke depan saya ingin back to campus. Saya menempuh keilmuan cukup lama sampai S3 dan saya ingin balik ke kampus. Saya senang ketemu student, tetapi tetap punya target yang harus dicapai.
Kalau dianggap ini sebagai pelabuhan terakhir, mungkin iya, sebagai perusahaan. Tetapi nggak tahu suatu saat justru Killara yang saya akuisisi ..ha ha ha ha…

Jadi sekarang makin sibuk?
Makin sibuk dalam artian sibuk untuk fokus satu bidang. Kalau dulu di Recapital berkaitan dengan berbagai industri. Hari ini duduk dengan orang asuransi, besok dengan orang sekuritas, besoknya lagi dengan yang lain. Hal itu saya lakukan dalam 6 tahun terakhir. Dari mulai Recapital karyawannya 10 orang sampai ribuan orang bahkan mengakuisisi puluhan perusahaan. Saya pikir cukup pengabdian di situ, sudah membangun suatu struktur yang bagus. Saya pikir, saya fokus pada satu industri tertentu, mining. Ini menjadi challenge bagi saya.

Tidak ingin masuk ke industri selain mining?
Pada saat ini saya masih memegang posisi menjadi komisaris di beberapa perusahaan asuransi, sekuritas, juga pengawas di bank. Tetapi saya tekankan saya duduk di situ tidak sebagai simbol, karena saya ingin fokus dan memberi kontribusi yang besar. Saya tidak mau hanya ngambil posisi tertentu tetapi tidak bisa memberi kontribusi. Malu juga sih, yang akhirnya juga greedy.
Kita tidak akan maksimal mengabdi kalau kita greedy, pasti itu. Kalau greedy, yang kita pikiran selalu diri kita sendiri. Kalau namanya greedy tidak pernah merasa cukup, dapat posisi tiga komisaris, masih juga belum cukup, yang terjadi kemudian tidak fokus. Kita juga harus realistis, seberapa banyak otak kita, badan kita bisa kontribusi, itu juga harus kita pikirkan.

Di tengah kesibukan, bagaimana membagi waktu de-ngan keluarga?
Nah, ini filosofi Australia, Sabtu-Minggu kita nggak ada urusan sama pekerjaan. Itu waktunya keluarga. Kecuali be-nar-benar urgent, harus ada keputusan penting, tetapi bukan berarti diada-adain. Saya pikir, pekerjaan itu tidak se-gala-galanya.
Kita masih punya keluarga, tanggungjawab kita juga ke keluarga dan anak. Keluarga berantakan, anak kita be-rantakan, akan berimbas pada pekerjaan. Karena itu balance of life itu penting. Karena itu, filosofi teman-teman Killara seperti itu.
Kalau Sabtu-Minggu saya sama istri dan anak-anak. Sabtu saya pasti sama istri saya, kebetulan anak-anak saya sudah pada gede. Anak pertama mau kuliah, kemudian ada yang SMA dan SMP. Mereka di akhir pekan, Sabtu tidak diganggu gugat, bukan kita nggak mau diganggu gugat, tetapi mereka yang nggak mau diganggu, karena mereka punya acara sendiri.
Saya kasi kebebasan hari Sabtu kepada mereka. Apalagi selama 5 hari sekolah, mereka cukup capek, belum lagi ditambah les dan sebagainya. Saya juga sama istri bisa malam mingguan, pergi ke tempat yang kita suka. Tetapi untuk hari Minggu, itu acara keluarga. Biasanya kita manfaatkan kumpul bersama, menikmati kuliner dengan suasana desa di sekitaran Jakarta.

Apa arti keluarga buat Anda?
Buat saya, keluarga adalah fondasi utama. Kita punya ketenangan bekerja kalau keluarga kita tenang. Saya terma-suk yang pernah mengalami goncangan. Anak saya satu meninggal. Anak saya (menunjuk ke foto salah satu putra kembarnya) meninggal akibat kecelakaan, itu sempat set back buat saya.
Waktu itu saya masih di Recapital dan dukungan teman-teman luar biasa, sangat kuat. Di situ saya lihat, betapa pentingnya nilai keluarga. Kehilangan itu harganya sangat tinggi. Meskipun percaya takdir, tapi yang namanya orang kehilangan anak, sampai saat inipun saya masih merasakan.
Saya ingin memperkuat mission saya, keluarga yang paling utama. Ada apa-apa dikit anak, saya sudah pusing meskipun dia bilang nggak apa-apa. Kadang yang dikhawatirkan justru anak laki. Misalnya, bilang pergi ke rumah teman, ternyata di rumah temannya nggak ada, itu bikin worry juga. Belum lagi lalu lintas sekarang yang sangat ra-wan, sekarang naik taksi saja bisa dihipnotis, ini menimbulkan was-was.

(Selain sibuk di beberapa perusahaan Ridwan juga menjadi dosen di berbagai lembaga pendidikan, ia juga banyak menulis artikel di berbagai media dan juga menulis buku. Sudah dua buku yang ditulisnya yaitu ”Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia” dan ”Korupsi Mengkorupsi Indonesia”. Ke duanya diterbitkan Gramedia Pustaka Utama).

Masih sempat menulis buku lagi?
Terakhir saya nulis buku soal korupsi, belum ada waktu lagi. Ada teman mengajak mengkaji soal governance, karena bidang saya memang di situ, Good Governance. Pada waktu itu ada pemikiran buat buku good governance untuk partai politik, sudah sempat ada draftnya.

Kenapa partai politik?
Karena saya berpikir begini. Kan rimba peraturan di Indonesia berakar dari tata kelola yang baik. Aturan itu semuanya bermuara dari DPR. DPR adalah orang parpol, bagaimana orang yang membuat produk hukum tapi tidak mengerti tata kelola governance yang benar. Proses recruitment partai nggak benar, sehingga yang duduk di situ bukan orang-orang yang berkaulitas.

Tidak tertarik terjun dalam politik praktis?
Nggak! Saya nggak tertarik jadi politisi. Ingat pesan pak JK (Jusuf Kalla-red). Kalau semua pengusaha jadi politisi, siapa yang jadi pengusaha di negeri ini. Baru sebentar punya akses sudah mau jadi politikus.
Kita harus bangga dengan profesi kita, jangan tergiur karena banyak duit kemudian jadi politikus. Di negara-negara maju, pengusaha adalah pressure group. Mereka sangat menentukan siapa yang menjadi presiden. Kalau di negara kita jadi anggota DPR, itu pekerjaan, bukan pengabdian.

Siapa yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter Anda?
Mungkin pada awal karier saya pak Omar S Anwar, pada waktu saya di Citibank. Orangnya kalem, berpikir tenang, berpengaruh buat karier saya ke depan. Kemudian juga teman-teman saya. Pak Sandi (Sandiaga Uno) dan pak Ro-san (Rosan Perkasa Roslani). Meskipun muda, kita membangun bersama. Mereka juga sangat berpengruh. Sosok yang juga berpengaruh adalah kakek saya, Mochammad Jasin. Kakek saya pendiri Brimob (Brigade Mobil). Saat ini beliau berusia 93 tahun. Saya selalu terngiang nasehat beliau, bekerjalah dan jangan korupsi. Kalau mau sukses, berusaha yang benar saja, yang halal. Itu selalu yang dikatakan beliau.
Kakek saya termasuk polisi yang punya jiwa besar, idealis dan tidak kaya. Normal-normal saja. Setiap kali ada acara kepolisian, para mantan Kapolri atau pejabat kepolisian selalu bilang, beliau orang yang jujur dan sangat langka mencari orang seperti beliau, susah mencari generasi muda polisi yang seperti beliau. Nasehat beliau, saya transformasi ke bidang pekerjaan saya, kita bisa menjadi idealis tapi fleksibel. Berkarya tapi tidak perlu greedy. Kata kuncinya: jangan greedy.

Sebutkan hal penting tentang diri Anda?
Ada tiga pilar yang saya bawa kemana-mana. Pertama, inovasi. Saya orang yang selalu memikirkan inovasi, thinking outside the box, keluar dari pakem, jangan hanya berdasarkan pakem, harus berkreasi.
Kedua, saya juga harus melakukan sesuatu berdasarkan governance yang baik. Kita bisa makmur dengan ber-governance yang baik.
Ke tiga, harus selalu memikirkan solusi terbaik buat bangsa. Tambahan lagi, pilar keluarga itu adalah utama. Buat saya dukungan keluarga sangat penting. Ketika kita ada masalah, maka keluarga adalah tempat pertama. Saya seorang family man, banyak spent waktu saya buat keluarga.
Di atas semua itu, yang utama adalah agama. Ada masalah, kita percaya tidak bisa mengatasi kalau kita tidak beragama. Jatuh bangun di karier semua bagian dari perjalanan. Hal ini selalu saya tanamkan pada anak-anak, bahwa mereka harus belajar susah.

Hobi?
Setiap minggu ada jogging sama istri, 1-2 kilo jalan berdua. Senang berenang, kalau liburan selalu nyari hotel yang ada kolam renangnya, terutama kolam renang yang nggak rame. Kalau golf, dulu, sekarang justru kurangi main golf karena bisa seharian penuh. Bukan masalah saya anti golf, tapi waktunya saja belum pas. Banyak hal lain yang bisa kita lakukan di luar itu, dibanding seharian di lapangan.

icon
Berita Lain
02 April 2012 | 02.23
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri
02 April 2012 | 02.23
Siap Jadi Yang Pertama
02 April 2012 | 02.23
Bisnis Ala Emak-emak
02 April 2012 | 02.23
Belum Ada Kemauan Politik