*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in

Warning: getimagesize(news/attachements/balikpapangolfrev.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player


Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18

Alternative content

Get Adobe Flash player

Alternative content

Get Adobe Flash player

TAMBANG, 23 September 2012 | 23.59
Energi Terbarukan Jadi Fokus PLN

Sebagai satu-satunya perusahaan yang ”mengedarkan” listrik, Perusahan Listrik Negara (PT PLN, Persero) mau tidak mau harus menggandeng pihak lain untuk memenuhi kebutuhan listrik di seluruh Indonesia. Selain itu, perusahaan setrum pelat merah ini juga harus tidak melulu tergantung dan mengandalkan pembangkit berbahan bakar minyak (BBM).
Dengan semakin meningkatkan harga BBM, PLN harus melirik pembangkit listrik dengan bahan bakar lain. Setelah fase gas dan batubara, saat ini PLN mencoba fokus membangun pembangkit listrik berbahan bakar energi terbarukan. ”Tahun ini PLN secara resmi mencanangkan tahun Gerakan Energi Terbarukan,” kata Direktur Utama PLN Nur Pamudji kepada wartawan Majalah TAMBANG, di Jakarta, pertengahan Agustus 2012.
Pamudji menegaskan, PLN bertekad mempercepat pembangunan program pembangkit listrik menggunakan energi terbarukan melalui fast track program (FTP) 10 ribu megawatt (MW) tahap kedua. Rencananya, pada 2013, terdapat tambahan pasokan listrik sebesar 274 MW dari program FTP tahap kedua tersebut. Berikut petikan wawancara lengkap dengan Nur Pamudji.
Bisa dijelaskan soal FTP tahap kedua?
FTP tahap pertama, mayoritas menggunakan pembangkit berbahan bakar batubara, sedangkan FTP tahap kedua, mayoritas pembangkitnya menggunakan energi terbarukan.

Berapa total kapasitas pembangkit poda FTP tahap kedua?
Total kapasitas mencapai 10.047 MW. Dari jumlah tersebut, 66% pembangkit menggunakan energi baru terbarukan (EBT). Rinciannya, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 4.900 MW dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 1.753 MW.

Semua pembangkit dibangun PLN?
Tidak. Dalam FTP tahap kedua PLN menggandeng produsen listrik swasta (independent power producer/IPP). Berdasarkan estimasi, FTP tahap kedua proyek PLN status per 27 Juli 2012, mulai beroperasinya secara komersial (commercial operation date/COD), pada 2013 akan ada tambahan pasokan sebesar 274 MW, dan bertambah lagi 249 MW (2014), 953 MW (2015), 184 MW (2016), 1.115 MW (2017), dan pada 2018 mencapai puncaknya sebesar 10.047 MW.

Bisa Lebih rinci?
FTP tahap kedua, PLN memegang 26 proyek dengan kapasitas 3.757 MW, sedangkan 72 proyek dengan kapasitas 6.290 MW dikelola IPP. Jenis pembangkit yang dikelola PLN yaitu PLTP sebanyak enam proyek kapasitas 300 MW, PLTA tiga proyek berkapasitas 1.269 MW, pembangkit listrik tenaga uap delapan proyek dengan kapasitas 1.804 MW, satu unit pembangkit listrik tenaga gas kapasitas 280 MW. Juga ada delapan pembangkit listrik tenaga gasifikasi batubara dengan kapasitas 64 MW. Saat ini sudah ada lima proyek dalam tahap pra konstruksi. Untuk IPP yang ada pada FTP tahap kedua, tahun depan mulai masuk ke sistem atau COD sebesar 60 MW, secara bertahap akan mencapai puncak pada 2015.

Yakin seluruh proyek bisa dibangun?
Saya sangat yakin. Sebab, sumber dana pembangunannya sudah jelas. Perlu diingat PLTP yang membangun bukan PLN. PLN hanya membangun PLTP yang ada di Ambon, itupun dengan kapasitas hanya 10 MW. Saat ini progres proyeknya masuk ke tahap eksplorasi. Pembangunan PLTP memang bergantung pihak luar PLN. Saya yakin PLTP yang dikerjakan Pertamina, Geo Dipa Energi, Chevron, dan Supreme Energy bisa terbangun. Membangun PLTP tidak mudah. Investasi yang dibutuhkan juga besar. Mulai pemboran hingga menjadi pembangkit sekitar US$ 2,5 juta hingga US$ 3 juta per 1 MW. Jika dikalkulasikan, nilai investasi minimalnya US$ 600 untuk per kilowatt (kW) listrik.

Bagaimana dengan pembangkit energi terbarukan selain PLTP?
Kami juga memanfaatkan potensi air dengan kehadiran PLTA dan pembangkit listrik tenaga mikro atau mikro hidro di sejumlah daerah yang memiliki potensi air melimpah. Selain itu, PLN juga memanfaatkan potensi energi sinar matahari melalui program 100% energi surya di 100 pulau terdepan. Diawali dengan pilot percontohan di enam pulau wisata terkenal seperti Derawan, Bunaken, Raja Ampat, Wakatobi, Banda dan Gili Trawangan.

Selain Air, ada lagi?
PLN juga fokus dalam pemanfaatan energi terbarukan lain seperti biomassa melalui pembangkit listrik tenaga sampah. Pemanfaatan PLT sampah juga dapat sebagai solusi pemecahan permasalahan lingkungan sekaligus, selain menghasilkan listrik.

Ada perkembangan soal pembangkit biomassa ini?
Pola pengembangan pembangkit biomassa ada dua, yang digarap PLN atau IPP. PLN membuka lebar peluang pengembangan pembangkit biomassa. Siapa saja dipersilahkan membangun. Khusus yang dibangun PLN, baru ada di luar Pulau Jawa, yakni di Nias dan Sumba Barat Daya.

Hambatannya?
Kesulitan pengembangan pembangkit biomassa adalah soal konsesi hutan. Pasalnya, untuk mengembangkan 1 MW dibutuhkan konsesi hutan sekitar 100 hektare dan biasanya di kawasan hutan tanaman industri.

Bisa ceritakan soal PLTU Biomassa di Nias?
Guna menambah dan membantu daya listrik di Kepulauan Nias, dalam waktu dekat kami akan membangun pembangkit listrik biomassa di Kecamatan Bawolato. Ketersediaan kayu sebagai bahan bakar menjadi pertimbangan pembangunan pembangkit biomassa. Pemerintah Daerah Kabupaten Nias sudah menyediakan lahan untuk lokasi bangunan pembangkit listrik tersebut.

icon
Berita Lain
23 September 2012 | 23.59
Ingin Jadi Tuan di Rumah Sendiri
23 September 2012 | 23.59
Siap Jadi Yang Pertama
23 September 2012 | 23.59
Bisnis Ala Emak-emak
23 September 2012 | 23.59
Belum Ada Kemauan Politik