*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
Warning: getimagesize(news/attachements/4thgolfturnamen.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Alternative content

TAMBANG, 30 Januari 2013 | 22.36
Bisnis Ala Emak-emak
Dulunya profesional di sebuah bank, kini memiliki tambang batubara yang produksinya 50.000 ton sebulan. Juga punya berbagai tambang mineral. Pendekatan kepada masyarakat dan pemimpin informal sangat penting.
Hanifah Husein tidak memiliki latar belakang pertambangan. Ia sarjana pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat bekerja di Bank Muamalat, ia banyak terlibat dalam pembiayaan untuk pengelolaan sumberdaya alam, termasuk pertambangan.
Setelah berhenti dari Bank Muamalat, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Korps HMI Wati (Kohati) itu memutuskan terjun ke bisnis batubara. Sang suami, politikus Ferry Mursidan Baldan, sempat terperanjat, ketika ia mengutarakan keinginan berbisnis batubara. Namun ia me-yakinkan sang suami, bahwa kebutuhan terhadap batu-bara akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Berikut wawancara Majalah TAMBANG dengan Hanifah Husein, Presiden Direktur PT Syahid Indah Utama.
Bagaimana awalnya terjun ke bisnis pertambangan?
Saat saya di Bank Muamalat tahun 2003, Bank Muamalat mendanai offshore base facilities di Kalimantan Timur. Karena konsepnya bagi hasil, mudharabah, setiap minggu saya ke sana. Nah, setiap ke lapangan, saya lihat batubara. Tanya-tanya seperti apa batubara itu, sehingga saya banyak belajar tentang batubara.
Nah, 2004, saya berhenti dari Bank Muamalat. Itu pilihan yang berat, tetapi harus saya jalani. (Hanifah berhenti bekerja, atas saran dokter, bed rest, demi alasan kesehatan). Sampai 2005, saya tetap tidak bekerja, padahal selama ini, saya sudah terbiasa beraktivitas. Akhirnya, saya usulkan ke suami, untuk bisnis. Binsis yang saya pilih adalah pertambangan. Hah, tambang? Demikian reaksi pertama suami saya.
Dalam pemikiran suami saya, juga kebanyakan orang, tambang itu bukan pekerjaan perempuan. Saya bilang insya Allah saya bisa. Untuk meyakinkan sauami, saya buat proposal, saya gambarkan bagaiamana prospek batubara ke depan. Saya bilang, batubara akan bagus, minyak bumi akan mahal, pilihan yang paling murah dan efisien adalah batubara.
Setelah lebih kurang tiga tahun berdagang batubara, pada 2008, saya baru dapat tambang di Berau, Kalimantan Timur, dengan proses akuisisi dari KP (IUP) eksplorasi. Satu tambang sudah beroperasi produksi, 50 ribu ton per bulan, kalori GAR 4.200. Sementara dua tambang lagi se-dang dibor.
Satu tambang akan mulai produksi juga semester II 2013. Saya menjualnya ke dalam negeri, yang beli Noble, kemudian Noble yang jual ke luar negeri. (Noble Group adalah perusahaan perdagangan, terdaftar di bursa Singapura dan berbasis di Hongkong).
Tidak menjual sendiri, kan punya pengalaman trading?
Polanya CIF (cost, insurance, and freight). Saya belum berani kalau CIF, modalnya masih pas-pasan. Tetapi alhamdulillah, ketika orang sulit menjual, saya tidak kesulitan. Itu tadi, saya bisnis emak-emak saja.
Bagaimana ceritanya masuk ke tambang mangan?
Tiga tahun lalu sudah masuk ke mangan di Karangnunggal, Tasikmalaya. Tetapi karena dekat dengan permukiman penduduk, saya tidak yakin, akhirnya saya jual. Jadi mungkin itulah persoalan di mangan. Kalau kita pakai peralatan berat, juga tidak bisa, sehingga harus melibatkan masyarakat.
Tetapi karena lokasi dekat dengan permukiman, akan lebih bahaya lagi bagi lingkungan. Akhirnya saya cari ke teman-teman, dapatlah di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Sekarang lagi proses final bersih dan tuntas (C&C).
Kalau yang bijih besi, kadar Fe-nya dibawah 58. Saya sudah ada kontak dengan investor lain untuk buat smelter untuk membuat sponge iron. Untuk nikel, rencanannya mulai jual Januari 2013, ekspor dulu. Setelah dikalkulasi, bahkan dengan harus membayar PNBP 20 persen, masih okelah.
Regulasi pertambangan, mewajibkan membangun pengolahan atau smelter. Bagaimana Anda melihat itu?
Dari lubuk hati saya, saya setuju dengan kebijakan itu. Tetapi ada kalanya kebijakan itu menjadi tidak rasional. Misalkan untuk nikel, porsi terbesarnya ada di pembangkit listrik, sementara pembangkitnya tidak ada. Listrik juga tidak ada. Kedua, input produknya batubara, sementara batubaranya tidak ada.
Jika harus impor, bagaimana aturan pajak impor dan sebagainya. Itu yang menurut saya, mengapa tidak dipikirkan dengan baik, sehingga terlihat lebih fair. Kalau ada fasilitas itu, siapa sih yang tidak mau.
Investasi untuk smelter cukup besar. Kenapa tidak kemudian dibagi, investor besar yang bangun, kemudian yang sedang yang mengumpulkan bahan mentahnya, sehingga bisa bekerja sama. Program pemerintah juga bisa jalan.
Saya masih punya mimpi bahwa suatu saat saya bisa, tetapi sekarang siapa partner saya, wallahu a’lam, belum tahu.
Di pertambangan banyak persoalan. Selain dengan Kementerian ESDM, Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, juga dengan masyarakat. Bagaimana mengatasi persoalan itu?
Bahwa memang betul saya mengeluh iya, tetapi itu saya jalani. Kalau saya jalani dan alhamdulillah, ya mulus-mulus saja. Itu juga mungkin keuntungan perempuan pengusaha di tambang. Sebagai contoh, izin pinjam pakai, orang lain butuh waktu mengurusnya bertahun-tahun, saya cuma dalam hitungan bulan. Alhamdulillah, Allah berikan kemudahan pada saya.
Dari pengalaman saya bahwa banyak pejabat mem-persulit, tidak jugalah. Tetapi bahwa banyak peraturan menjadi tumpang tindih, iya. Tetapi ketika kita jalani, tidak jugalah. Jadi, banyak dukungan kalau kita berlaku benar.
Bukan karena suami Anda, Ferry Mursidan Baldan, yang dikenal sebagai politisi papan atas?
Bukan karena faktor itu. Saya setelah memiliki tambang, baru bupati tahu, bahwa saya nyonya Ferry Mursidan Baldan. Tidak ada keistimewaan. Bahkan ada yang bilang, belum ada loh, pemilik tambang yang datang langsung, tetapi saya datang sendiri. Saya mengerti betul, apa yang harus dilakukan.
Kira-kira sampai kapan akan berbisnis di tambang?
Ya sampai bosan, karena banyak sudah dipersiapkan. Nanti akan saya serahkan kepada profesional, tidak semua hal lagi saya ikut ke lapangan. Pengalaman selama ini, bisa saya bagi. Bisnis tambang itu risiko tinggi, investasi tinggi. Kadang-kadang hasil tinggi, tapi tiba-tiba rendah. Risiko tinggi lebih mendominasi.
Saya kenapa ikut langsung memang saya sangat takut impaknya kepada masyarakat, jadi saya ikut terlibat secara intens. Takut kecelakaan kerja, takut juga debu kepada masyarakat sekitar, takut air limbah masuk kembali kepada sumber air masyarakat, pasti ada masalah.
Apakah itu juga salah satu kelebihan perempuan yang terlibat di pertambangan?
Saya kira iya. Waktu mau pembebasan lahan, separuh tanah saya, masuk ke wilayah Suku Dayak Punan. Mereka marah-marah. Ketika saya datang, tidak ada apa-apa. Saya beritahu, bahwa insya Allah saya tidak akan beri kesulitan kepada masyarakat. Justru insya Allah kehadiran saya akan membantu.
Alhamdulillah, akhirnya mereka bisa menerima kehadiran kami dan tanpa ada bentrokan fisik dan sebagainya. Mereka hanya meminta, agar kampung mereka disirami, agar tidak berdebu. Oke, kita lakukan, meski jaraknya jauh dari permukiman mereka. Atau misalkan bantuan untuk hari-hari besar, sepertri lebaran atau natal, kita juga kasih. Balancing aja, itu kuncinya.
Apakah masyarakat sekitar juga dilibatkan sebagai karyawan?
Oh iya itu sangat penting. Kalau kami di Berau, karena ada kebutuhan pekerja untuk Berau Coal, juga perusahaan lainnya, sampai masyarakat di sana sudah habis, ditarik ke beberapa perusahaan. Tenaga kerja terpakai semuanya. Kemudian kadang-kadang ada masyarakat yang punya truk, minta agar truk mereka dipakai, dengan harga yang standar, kami oke saja.
Kalau program CSR-nya?
Sejauh ini banyak sekali sudah dibuat oleh Berau Coal, kami tinggal mengisi relung yang kosong. Tetapi sampai sekarang saya ingin mencari format, bagaimana memberi kepuasan kepada mereka, walaupun saya kecil. Makanya saya dengan Berau coal selalu sejalan, kompak, misalnya waktu pembangunan jalan, Berau Coal yang lebih besar, saya yang menambah kerikil atau apa.
Bagaimana masa depan pertambangan Indonesia?
Masih prospektif. Bahwa jangan menjual tanah air, saya juga sepakat. Seperti nikel, awal mulanya saya ketakutan. Betul-betul dicangkul. Saya tanya, ini overburdennya, penutupnya di mana, dijawab, mana ada. Karena di nikel, dilapisan 1 meter, Ni-nya sekian, lapisan 2 meter Ni-nya sekian. Jadi itu diambil semua.
Kalau batubara ada top soil, ada overburden, dipindahkan. Saat tambang ditutup, tanahnya dikembalikan lagi.
Hah, ya Allah, betul-betul jual tanah air. Tetapi saya sangat setuju dengan konsep nilai tambah. Hanya memang tidak mungkin semua penambang kecil buat smelter. Saya pikir kenapa tidak inti plasma. Kalau orang yang punya uang buat smelter, dia butuh security supply, maka bisa kerjasama dengan semua perusahaan tambang untuk memasok bahan bakunya.
Tetapi itu 2014, jangan sekarang. Tetapi jangan juga jorjoran. Negeri ini sangat kaya. Rasanya tidak berlebihan kalau ada impact-nya ke masyarakat, menyejahterakan masyarakat, wong kita kaya kok. Kalau di Timur Tengah hanya kaya minyak, kita kaya semuanya. Semua mineral ada.
Ada niat beralih ke bisnis lain?
Tidak. Malah tambah lama, tambah excited.
Bisnis Ala Emak-emak
Dulunya profesional di sebuah bank, kini memiliki tambang batubara yang produksinya 50.000 ton sebulan. Juga punya berbagai tambang mineral. Pendekatan kepada masyarakat dan pemimpin informal sangat penting.
Hanifah Husein tidak memiliki latar belakang pertambangan. Ia sarjana pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Saat bekerja di Bank Muamalat, ia banyak terlibat dalam pembiayaan untuk pengelolaan sumberdaya alam, termasuk pertambangan.
Setelah berhenti dari Bank Muamalat, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Korps HMI Wati (Kohati) itu memutuskan terjun ke bisnis batubara. Sang suami, politikus Ferry Mursidan Baldan, sempat terperanjat, ketika ia mengutarakan keinginan berbisnis batubara. Namun ia me-yakinkan sang suami, bahwa kebutuhan terhadap batu-bara akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang.
Berikut wawancara Majalah TAMBANG dengan Hanifah Husein, Presiden Direktur PT Syahid Indah Utama.
Bagaimana awalnya terjun ke bisnis pertambangan?
Saat saya di Bank Muamalat tahun 2003, Bank Muamalat mendanai offshore base facilities di Kalimantan Timur. Karena konsepnya bagi hasil, mudharabah, setiap minggu saya ke sana. Nah, setiap ke lapangan, saya lihat batubara. Tanya-tanya seperti apa batubara itu, sehingga saya banyak belajar tentang batubara.
Nah, 2004, saya berhenti dari Bank Muamalat. Itu pilihan yang berat, tetapi harus saya jalani. (Hanifah berhenti bekerja, atas saran dokter, bed rest, demi alasan kesehatan). Sampai 2005, saya tetap tidak bekerja, padahal selama ini, saya sudah terbiasa beraktivitas. Akhirnya, saya usulkan ke suami, untuk bisnis. Binsis yang saya pilih adalah pertambangan. Hah, tambang? Demikian reaksi pertama suami saya.
Dalam pemikiran suami saya, juga kebanyakan orang, tambang itu bukan pekerjaan perempuan. Saya bilang insya Allah saya bisa. Untuk meyakinkan sauami, saya buat proposal, saya gambarkan bagaiamana prospek batubara ke depan. Saya bilang, batubara akan bagus, minyak bumi akan mahal, pilihan yang paling murah dan efisien adalah batubara.
Setelah lebih kurang tiga tahun berdagang batubara, pada 2008, saya baru dapat tambang di Berau, Kalimantan Timur, dengan proses akuisisi dari KP (IUP) eksplorasi. Satu tambang sudah beroperasi produksi, 50 ribu ton per bulan, kalori GAR 4.200. Sementara dua tambang lagi se-dang dibor.
Satu tambang akan mulai produksi juga semester II 2013. Saya menjualnya ke dalam negeri, yang beli Noble, kemudian Noble yang jual ke luar negeri. (Noble Group adalah perusahaan perdagangan, terdaftar di bursa Singapura dan berbasis di Hongkong).
Tidak menjual sendiri, kan punya pengalaman trading?
Polanya CIF (cost, insurance, and freight). Saya belum berani kalau CIF, modalnya masih pas-pasan. Tetapi alhamdulillah, ketika orang sulit menjual, saya tidak kesulitan. Itu tadi, saya bisnis emak-emak saja.
Bagaimana ceritanya masuk ke tambang mangan?
Tiga tahun lalu sudah masuk ke mangan di Karangnunggal, Tasikmalaya. Tetapi karena dekat dengan permukiman penduduk, saya tidak yakin, akhirnya saya jual. Jadi mungkin itulah persoalan di mangan. Kalau kita pakai peralatan berat, juga tidak bisa, sehingga harus melibatkan masyarakat.
Tetapi karena lokasi dekat dengan permukiman, akan lebih bahaya lagi bagi lingkungan. Akhirnya saya cari ke teman-teman, dapatlah di Atambua, Nusa Tenggara Timur. Sekarang lagi proses final bersih dan tuntas (C&C).
Kalau yang bijih besi, kadar Fe-nya dibawah 58. Saya sudah ada kontak dengan investor lain untuk buat smelter untuk membuat sponge iron. Untuk nikel, rencanannya mulai jual Januari 2013, ekspor dulu. Setelah dikalkulasi, bahkan dengan harus membayar PNBP 20 persen, masih okelah.
Regulasi pertambangan, mewajibkan membangun pengolahan atau smelter. Bagaimana Anda melihat itu?
Dari lubuk hati saya, saya setuju dengan kebijakan itu. Tetapi ada kalanya kebijakan itu menjadi tidak rasional. Misalkan untuk nikel, porsi terbesarnya ada di pembangkit listrik, sementara pembangkitnya tidak ada. Listrik juga tidak ada. Kedua, input produknya batubara, sementara batubaranya tidak ada.
Jika harus impor, bagaimana aturan pajak impor dan sebagainya. Itu yang menurut saya, mengapa tidak dipikirkan dengan baik, sehingga terlihat lebih fair. Kalau ada fasilitas itu, siapa sih yang tidak mau.
Investasi untuk smelter cukup besar. Kenapa tidak kemudian dibagi, investor besar yang bangun, kemudian yang sedang yang mengumpulkan bahan mentahnya, sehingga bisa bekerja sama. Program pemerintah juga bisa jalan.
Saya masih punya mimpi bahwa suatu saat saya bisa, tetapi sekarang siapa partner saya, wallahu a’lam, belum tahu.
Di pertambangan banyak persoalan. Selain dengan Kementerian ESDM, Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, juga dengan masyarakat. Bagaimana mengatasi persoalan itu?
Bahwa memang betul saya mengeluh iya, tetapi itu saya jalani. Kalau saya jalani dan alhamdulillah, ya mulus-mulus saja. Itu juga mungkin keuntungan perempuan pengusaha di tambang. Sebagai contoh, izin pinjam pakai, orang lain butuh waktu mengurusnya bertahun-tahun, saya cuma dalam hitungan bulan. Alhamdulillah, Allah berikan kemudahan pada saya.
Dari pengalaman saya bahwa banyak pejabat mem-persulit, tidak jugalah. Tetapi bahwa banyak peraturan menjadi tumpang tindih, iya. Tetapi ketika kita jalani, tidak jugalah. Jadi, banyak dukungan kalau kita berlaku benar.
Bukan karena suami Anda, Ferry Mursidan Baldan, yang dikenal sebagai politisi papan atas?
Bukan karena faktor itu. Saya setelah memiliki tambang, baru bupati tahu, bahwa saya nyonya Ferry Mursidan Baldan. Tidak ada keistimewaan. Bahkan ada yang bilang, belum ada loh, pemilik tambang yang datang langsung, tetapi saya datang sendiri. Saya mengerti betul, apa yang harus dilakukan.
Kira-kira sampai kapan akan berbisnis di tambang?
Ya sampai bosan, karena banyak sudah dipersiapkan. Nanti akan saya serahkan kepada profesional, tidak semua hal lagi saya ikut ke lapangan. Pengalaman selama ini, bisa saya bagi. Bisnis tambang itu risiko tinggi, investasi tinggi. Kadang-kadang hasil tinggi, tapi tiba-tiba rendah. Risiko tinggi lebih mendominasi.
Saya kenapa ikut langsung memang saya sangat takut impaknya kepada masyarakat, jadi saya ikut terlibat secara intens. Takut kecelakaan kerja, takut juga debu kepada masyarakat sekitar, takut air limbah masuk kembali kepada sumber air masyarakat, pasti ada masalah.
Apakah itu juga salah satu kelebihan perempuan yang terlibat di pertambangan?
Saya kira iya. Waktu mau pembebasan lahan, separuh tanah saya, masuk ke wilayah Suku Dayak Punan. Mereka marah-marah. Ketika saya datang, tidak ada apa-apa. Saya beritahu, bahwa insya Allah saya tidak akan beri kesulitan kepada masyarakat. Justru insya Allah kehadiran saya akan membantu.
Alhamdulillah, akhirnya mereka bisa menerima kehadiran kami dan tanpa ada bentrokan fisik dan sebagainya. Mereka hanya meminta, agar kampung mereka disirami, agar tidak berdebu. Oke, kita lakukan, meski jaraknya jauh dari permukiman mereka. Atau misalkan bantuan untuk hari-hari besar, sepertri lebaran atau natal, kita juga kasih. Balancing aja, itu kuncinya.
Apakah masyarakat sekitar juga dilibatkan sebagai karyawan?
Oh iya itu sangat penting. Kalau kami di Berau, karena ada kebutuhan pekerja untuk Berau Coal, juga perusahaan lainnya, sampai masyarakat di sana sudah habis, ditarik ke beberapa perusahaan. Tenaga kerja terpakai semuanya. Kemudian kadang-kadang ada masyarakat yang punya truk, minta agar truk mereka dipakai, dengan harga yang standar, kami oke saja.
Kalau program CSR-nya?
Sejauh ini banyak sekali sudah dibuat oleh Berau Coal, kami tinggal mengisi relung yang kosong. Tetapi sampai sekarang saya ingin mencari format, bagaimana memberi kepuasan kepada mereka, walaupun saya kecil. Makanya saya dengan Berau coal selalu sejalan, kompak, misalnya waktu pembangunan jalan, Berau Coal yang lebih besar, saya yang menambah kerikil atau apa.
Bagaimana masa depan pertambangan Indonesia?
Masih prospektif. Bahwa jangan menjual tanah air, saya juga sepakat. Seperti nikel, awal mulanya saya ketakutan. Betul-betul dicangkul. Saya tanya, ini overburdennya, penutupnya di mana, dijawab, mana ada. Karena di nikel, dilapisan 1 meter, Ni-nya sekian, lapisan 2 meter Ni-nya sekian. Jadi itu diambil semua.
Kalau batubara ada top soil, ada overburden, dipindahkan. Saat tambang ditutup, tanahnya dikembalikan lagi.
Hah, ya Allah, betul-betul jual tanah air. Tetapi saya sangat setuju dengan konsep nilai tambah. Hanya memang tidak mungkin semua penambang kecil buat smelter. Saya pikir kenapa tidak inti plasma. Kalau orang yang punya uang buat smelter, dia butuh security supply, maka bisa kerjasama dengan semua perusahaan tambang untuk memasok bahan bakunya.
Tetapi itu 2014, jangan sekarang. Tetapi jangan juga jorjoran. Negeri ini sangat kaya. Rasanya tidak berlebihan kalau ada impact-nya ke masyarakat, menyejahterakan masyarakat, wong kita kaya kok. Kalau di Timur Tengah hanya kaya minyak, kita kaya semuanya. Semua mineral ada.
Ada niat beralih ke bisnis lain?
Tidak. Malah tambah lama, tambah excited.

(2) komentar
Berita Lain





