*Khusus rubrikasi berlangganan
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
REGULASI | KLINIK MINERBA E-MAGAZINE | FOKUS TAMBANG Sign in
Warning: getimagesize(news/attachements/balikpapangolfrev.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Warning: getimagesize(news/attachements/kiss_balilinkrevisi.swf) [function.getimagesize]: failed to open stream: No such file or directory in /home/majalaht/public_html/attachments-events.php on line 18
Alternative content

TAMBANG, 27 November 2012 | 05.45
Migas Non-konvensional Dan Geopolitik Energi Di Masa Depan
Benny Lubiantara
Di industri migas, adanya migas non-konvensional, seperti: shale oil, oil sand, shale gas, tight sand, dan coal-bed methane (gas metana batubara), sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Potensi migas non-konvensional yang kaya organik di beberapa perusahaan migas selama ini sudah teridentifikasi, namun relatif diabaikan karena sangat rendahnya permeabilitas. Ini mencerminkan kesulitan untuk mengalirkan migas tersebut.
Sumber daya migas non-konvensional ini sangat besar. Berbeda dengan migas konvensional, yang menempatkan keberhasilan eksplorasi menjadi salah satu kunci sukses utama. Pada migas non-konvensional, karena lokasi sumber daya sudah teridentifikasi, isu utamanya adalah apakah cukup ekonomis memproduksikan akumulasi lapisan tersebut. Aplikasi teknologi perekahan (fracturing) dan pemboran horizontal yang umum digunakan pada sumur migas konvensional, merupakan terobosan dalam rangka memproduksikan akumulasi migas non-konvensional.
Di Amerika Serikat, sejak tahun 2006 produksi shale gas meningkat luar biasa. Hal ini berakibat turunnya harga gas secara dramatis di sana. Harga gas spot Henry-Hub, tahun 2006 mencapai $13 per mmbtu, saat ini “hanya” berharga antara $2 - 3 per mmbtu.
Adanya “revolusi” gas non-konvensional ini sedikit banyak akan mempengaruhi geopolitik energi. Tambahan produksi gas non-konvensional pada masa yang akan datang berpengaruh terhadap rute perdagangan LNG global. Majalah Petroleum Economist (edisi April 2012) menulis ancaman serius shale gas dari Amerika akan dirasakan oleh LNG Australia yang sedang melakukan investasi besar besaran. Impor LNG dari shale gas di Amerika diperkirakan akan lebih murah karena harganya mengacu kepada Henry- Hub yang merupakan harga patokan gas di Amerika Serikat. Sementara harga LNG tradisional umumnya mengacu kepada harga minyak.
Sementara untuk minyak non-konvensional, tambahan pasokan berasal dari shale/tight oil di Amerika dan oil sand/tar sand di Kanada. Akibatnya, sebagaimana diperkirakan oleh pakar migas Leonardo Maugeri, produksi minyak Amerika dalam satu dekade ke depan akan mendekati 12 juta barel per hari, nomor dua di dunia setelah Saudi Arabia.
Begitu pula dengan Kanada. Tambahan produksi minyak akibat kegiatan migas non-konvensional akan meningkat signifikan. Mereka akan menjadi salah satu dari lima besar produsen minyak dunia. Sementara Brazil pada dekade ke depan, melalui produksi dari wilayah laut dalam, produksi minyak (konvensional) mereka akan sedikit di atas 4 juta barel per hari. Meningkat 100% dari produksi saat ini.
Tambahan produksi minyak dunia ke depan akan didominasi oleh empat negara. Tiga dari wilayah Amerika (Amerika Serikat, Kanada, dan Brazil), ditambah Irak yang mewakili wilayah klasik Timur Tengah. Irak mendapat tambahan produksi dari sumur-sumur minyak yang direhabilitasi akibat kerusakan pada masa perang. Meningkatnya aktivitas minyak non-konvensional di Amerika Serikat akan secara dramatis mengurangi kebutuhan impor minyak negara tersebut.
Dari beberapa seminar internasional yang dihadiri penulis satu tahun terakhir, tidak sedikit pengamat minyak internasional terkenal berpendapat bahwa implikasi dari tambahan produksi minyak non-konvensional dapat menekan harga minyak. Namun demikian, dengan alasan keekonomian pengembangan migas non-konvensional secara global, saat ini diperlukan harga minyak paling tidak sekitar $70 per barel. Di bawah harga ini, sebagian proyek migas non-konvensional, khususnya di luar Amerika Serikat, menjadi kurang menarik.
Sumber daya (resources) migas non-konvensional di dunia sangat melimpah. Pertanyaannya: apakah kesuksesan pengembangannya di Amerika Serikat dan Kanada dapat dengan mudah di “copy paste” oleh negara lain? Jawabannya: tidak, khususnya dalam jangka pendek.
Kesuksesan industri migas non-konvensional di kedua negara tersebut, terjadi karena tersedianya sumber daya migas non-konvensional yang sangat besar. Faktor lainnya adalah adanya akses terhadap sistem pipanisasi lokal. Jarak antara lokasi proyek dengan konsumen relatif dekat, ditambah lagi dengan banyaknya perusahaan penyedia jasa untuk kegiatan hulu migas dan ketersediaan infrastruktur.
Adanya kompetisi sesama perusahaan yang terlibat dalam pengembangan gas non-konvensional mendorong terjadinya penurunan biaya. Di samping itu, di Amerika Serikat agak unik. Berbeda dengan di negara lain, di mana migas merupakan kekayaan yang dikuasai negara. Di Amerika Serikat migas merupakan kepemilikan privat (private ownerhip of mineral rights). Tentu saja faktor harga gas domestik yang tinggi selama periode 2005 - 2008 juga menjadi pendorong sehingga proyek menjadi ekonomis.
Isu lingkungan
Sejauh ini, tantangan yang dihadapi pada saat pengembangan migas non-konvensional adalah isu lingkungan. Penggunaan teknologi fracturing yang sangat intensif melalui injeksi air dan zat kimia tambahan ke dasar sumur dengan volume yang besar-besaran diyakini beberapa pihak akan menyebabkan kerusakan dan kontaminasi air tanah serta masalah lingkungan lainnya.
Beberapa negara, khususnya di daratan Eropa, sangat serius menangani isu lingkungan ini. Perancis mengeluarkan larangan kegiatan fracturing untuk eksploitasi shale gas sampai ada teknologi yang dianggap lebih akrab lingkungan. Eksploitasi minyak non-konvensional, seperti: oil sand juga menghadapi tantangan serupa, mengingat emisi karbon relatif lebih besar dihasilkan oleh minyak non-konvensional. Pada saat ini, isu lingkungan sedang dicarikan solusinya, termasuk kajian seberapa jauh kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan fracturing.
Pembelajaran
Dalam satu dekade ke depan, diperkirakan peta geopolitik energi akan berubah. Salah satu faktor penyebabnya tak lain adalah revolusi pada industri migas non-konvensional. Kita bisa belajar dari negara yang diperkirakan akan memberikan tambahan pasokan minyak secara signifikan pada masa datang, yakni Brazil dan Amerika Serikat.
Dari pengalaman negara tersebut, tampaknya diperlukan suatu pemicu agar suatu kebijakan energi secara umum dan terobosan peningkatan produksi migas secara khusus akan berhasil pada masa depan. Sebagai ilustrasi: kisah sukses industri migas di Brazil berangkat dari keprihatinan. Ketika itu, pada 1960-an, survei di darat tidak banyak menemukan cadangan minyak.
Menyadari sebagai negara miskin minyak, pemerintah Brazil mengeluarkan kebijakan yang intinya mencari cara supaya minyak digunakan secara lebih efisien dan sedapat mungkin beralih dari minyak. Dalam rangka mengurangi pengeluaran untuk impor minyak, pemerintah memutuskan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang diharapkan dapat mengurangi kebutuhan minyak pada pembangkit listrik di masa yang akan datang. Brazil juga membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan meluncurkan program bahan bakar ethanol. Pajak bahan bakar minyak ditingkatkan untuk mendorong efisiensi energi dan menghindari pemborosan bahan bakar minyak.
Pemerintah Brazil pada saat yang sama mendorong perusahaan minyak nasional (Petrobras) untuk mempercepat program pemenuhan kebutuhan minyak domestik. Tahun 1995 terjadi deregulasi untuk sektor migas. Petrobras diprivatisasi, hak monopolinya kemudian dicabut. Pemerintah mendirikan National Petroleum Agency (ANP) yang bertanggung jawab terhadap urusan penawaran wilayah kerja dan mengatur kegiatan baik hulu maupun hilir.
Deregulasi ini bertujuan agar Petrobras terbiasa berkompetisi, meningkatkan transparansi fiskal dan mengundang investor asing di sektor migas. Kegiatan eksplorasi meningkat, sehingga terjadi banyak temuan cadangan minyak besar pertengahan tahun 2000-an dari lokasi laut dalam.
Prinsip “bersakit-sakit dahulu” ini berbuah sukses. Padahal 32 tahun yang lalu, produksi minyak di Brazil hanya 200 ribu barel per hari, sementara konsumsi minyak pada saat itu mencapai 1.2 juta barel per hari. Saat ini, Brazil menjadi negara net eksporter minyak dan produksinya akan cenderung terus meningkat dekade ke depan dengan berproduksinya lapangan lapangan baru dari lokasi laut dalam tersebut.
Terobosan shale gas di Amerika Serikat tidak terlepas dari pemicu yang membuat mereka menderita, yaitu: tingginya harga gas pada tahun 2005 serta kekhawatiran impor LNG akan terus meningkat pada saat itu. Padahal dari sisi insentif pajak, sejak tahun 1990-an sudah ada insentif untuk pengembangan migas non-konnvensional. Insentif saja rupanya tidak cukup. Perlu pemicu yang membuat orang menjadi was–was sehingga “terpaksa” menjadi kreatif dengan terobosan aplikasi teknologi dan lain lain.
Belajar dari pengalaman diatas, untuk kasus di tanah air, kelihatannya sekedar himbauan penghematan rasanya akan kurang effektif. Untuk urusan kebijakan energi, bangsa ini perlu pemicu yang mungkin pada awalnya tidak terlalu nyaman. Dalam posisi yang kepepet, dorongan kreativitas dan optimalisasi sumber daya dan usulan kebijakan seharusnya bukan lagi pada tatanan wacana tetapi sudah menjadi kewajiban yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Sehingga kita tidak hanya menjadi penonton dan semakin sangat tergantung terhadap impor energi di masa depan.
*)Analis Kebijakan Fiskal, Divisi Riset, OPEC, Wina.
Migas Non-konvensional Dan Geopolitik Energi Di Masa Depan
Benny Lubiantara
Di industri migas, adanya migas non-konvensional, seperti: shale oil, oil sand, shale gas, tight sand, dan coal-bed methane (gas metana batubara), sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Potensi migas non-konvensional yang kaya organik di beberapa perusahaan migas selama ini sudah teridentifikasi, namun relatif diabaikan karena sangat rendahnya permeabilitas. Ini mencerminkan kesulitan untuk mengalirkan migas tersebut.
Sumber daya migas non-konvensional ini sangat besar. Berbeda dengan migas konvensional, yang menempatkan keberhasilan eksplorasi menjadi salah satu kunci sukses utama. Pada migas non-konvensional, karena lokasi sumber daya sudah teridentifikasi, isu utamanya adalah apakah cukup ekonomis memproduksikan akumulasi lapisan tersebut. Aplikasi teknologi perekahan (fracturing) dan pemboran horizontal yang umum digunakan pada sumur migas konvensional, merupakan terobosan dalam rangka memproduksikan akumulasi migas non-konvensional.
Di Amerika Serikat, sejak tahun 2006 produksi shale gas meningkat luar biasa. Hal ini berakibat turunnya harga gas secara dramatis di sana. Harga gas spot Henry-Hub, tahun 2006 mencapai $13 per mmbtu, saat ini “hanya” berharga antara $2 - 3 per mmbtu.
Adanya “revolusi” gas non-konvensional ini sedikit banyak akan mempengaruhi geopolitik energi. Tambahan produksi gas non-konvensional pada masa yang akan datang berpengaruh terhadap rute perdagangan LNG global. Majalah Petroleum Economist (edisi April 2012) menulis ancaman serius shale gas dari Amerika akan dirasakan oleh LNG Australia yang sedang melakukan investasi besar besaran. Impor LNG dari shale gas di Amerika diperkirakan akan lebih murah karena harganya mengacu kepada Henry- Hub yang merupakan harga patokan gas di Amerika Serikat. Sementara harga LNG tradisional umumnya mengacu kepada harga minyak.
Sementara untuk minyak non-konvensional, tambahan pasokan berasal dari shale/tight oil di Amerika dan oil sand/tar sand di Kanada. Akibatnya, sebagaimana diperkirakan oleh pakar migas Leonardo Maugeri, produksi minyak Amerika dalam satu dekade ke depan akan mendekati 12 juta barel per hari, nomor dua di dunia setelah Saudi Arabia.
Begitu pula dengan Kanada. Tambahan produksi minyak akibat kegiatan migas non-konvensional akan meningkat signifikan. Mereka akan menjadi salah satu dari lima besar produsen minyak dunia. Sementara Brazil pada dekade ke depan, melalui produksi dari wilayah laut dalam, produksi minyak (konvensional) mereka akan sedikit di atas 4 juta barel per hari. Meningkat 100% dari produksi saat ini.
Tambahan produksi minyak dunia ke depan akan didominasi oleh empat negara. Tiga dari wilayah Amerika (Amerika Serikat, Kanada, dan Brazil), ditambah Irak yang mewakili wilayah klasik Timur Tengah. Irak mendapat tambahan produksi dari sumur-sumur minyak yang direhabilitasi akibat kerusakan pada masa perang. Meningkatnya aktivitas minyak non-konvensional di Amerika Serikat akan secara dramatis mengurangi kebutuhan impor minyak negara tersebut.
Dari beberapa seminar internasional yang dihadiri penulis satu tahun terakhir, tidak sedikit pengamat minyak internasional terkenal berpendapat bahwa implikasi dari tambahan produksi minyak non-konvensional dapat menekan harga minyak. Namun demikian, dengan alasan keekonomian pengembangan migas non-konvensional secara global, saat ini diperlukan harga minyak paling tidak sekitar $70 per barel. Di bawah harga ini, sebagian proyek migas non-konvensional, khususnya di luar Amerika Serikat, menjadi kurang menarik.
Sumber daya (resources) migas non-konvensional di dunia sangat melimpah. Pertanyaannya: apakah kesuksesan pengembangannya di Amerika Serikat dan Kanada dapat dengan mudah di “copy paste” oleh negara lain? Jawabannya: tidak, khususnya dalam jangka pendek.
Kesuksesan industri migas non-konvensional di kedua negara tersebut, terjadi karena tersedianya sumber daya migas non-konvensional yang sangat besar. Faktor lainnya adalah adanya akses terhadap sistem pipanisasi lokal. Jarak antara lokasi proyek dengan konsumen relatif dekat, ditambah lagi dengan banyaknya perusahaan penyedia jasa untuk kegiatan hulu migas dan ketersediaan infrastruktur.
Adanya kompetisi sesama perusahaan yang terlibat dalam pengembangan gas non-konvensional mendorong terjadinya penurunan biaya. Di samping itu, di Amerika Serikat agak unik. Berbeda dengan di negara lain, di mana migas merupakan kekayaan yang dikuasai negara. Di Amerika Serikat migas merupakan kepemilikan privat (private ownerhip of mineral rights). Tentu saja faktor harga gas domestik yang tinggi selama periode 2005 - 2008 juga menjadi pendorong sehingga proyek menjadi ekonomis.
Isu lingkungan
Sejauh ini, tantangan yang dihadapi pada saat pengembangan migas non-konvensional adalah isu lingkungan. Penggunaan teknologi fracturing yang sangat intensif melalui injeksi air dan zat kimia tambahan ke dasar sumur dengan volume yang besar-besaran diyakini beberapa pihak akan menyebabkan kerusakan dan kontaminasi air tanah serta masalah lingkungan lainnya.
Beberapa negara, khususnya di daratan Eropa, sangat serius menangani isu lingkungan ini. Perancis mengeluarkan larangan kegiatan fracturing untuk eksploitasi shale gas sampai ada teknologi yang dianggap lebih akrab lingkungan. Eksploitasi minyak non-konvensional, seperti: oil sand juga menghadapi tantangan serupa, mengingat emisi karbon relatif lebih besar dihasilkan oleh minyak non-konvensional. Pada saat ini, isu lingkungan sedang dicarikan solusinya, termasuk kajian seberapa jauh kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh kegiatan fracturing.
Pembelajaran
Dalam satu dekade ke depan, diperkirakan peta geopolitik energi akan berubah. Salah satu faktor penyebabnya tak lain adalah revolusi pada industri migas non-konvensional. Kita bisa belajar dari negara yang diperkirakan akan memberikan tambahan pasokan minyak secara signifikan pada masa datang, yakni Brazil dan Amerika Serikat.
Dari pengalaman negara tersebut, tampaknya diperlukan suatu pemicu agar suatu kebijakan energi secara umum dan terobosan peningkatan produksi migas secara khusus akan berhasil pada masa depan. Sebagai ilustrasi: kisah sukses industri migas di Brazil berangkat dari keprihatinan. Ketika itu, pada 1960-an, survei di darat tidak banyak menemukan cadangan minyak.
Menyadari sebagai negara miskin minyak, pemerintah Brazil mengeluarkan kebijakan yang intinya mencari cara supaya minyak digunakan secara lebih efisien dan sedapat mungkin beralih dari minyak. Dalam rangka mengurangi pengeluaran untuk impor minyak, pemerintah memutuskan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang diharapkan dapat mengurangi kebutuhan minyak pada pembangkit listrik di masa yang akan datang. Brazil juga membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan meluncurkan program bahan bakar ethanol. Pajak bahan bakar minyak ditingkatkan untuk mendorong efisiensi energi dan menghindari pemborosan bahan bakar minyak.
Pemerintah Brazil pada saat yang sama mendorong perusahaan minyak nasional (Petrobras) untuk mempercepat program pemenuhan kebutuhan minyak domestik. Tahun 1995 terjadi deregulasi untuk sektor migas. Petrobras diprivatisasi, hak monopolinya kemudian dicabut. Pemerintah mendirikan National Petroleum Agency (ANP) yang bertanggung jawab terhadap urusan penawaran wilayah kerja dan mengatur kegiatan baik hulu maupun hilir.
Deregulasi ini bertujuan agar Petrobras terbiasa berkompetisi, meningkatkan transparansi fiskal dan mengundang investor asing di sektor migas. Kegiatan eksplorasi meningkat, sehingga terjadi banyak temuan cadangan minyak besar pertengahan tahun 2000-an dari lokasi laut dalam.
Prinsip “bersakit-sakit dahulu” ini berbuah sukses. Padahal 32 tahun yang lalu, produksi minyak di Brazil hanya 200 ribu barel per hari, sementara konsumsi minyak pada saat itu mencapai 1.2 juta barel per hari. Saat ini, Brazil menjadi negara net eksporter minyak dan produksinya akan cenderung terus meningkat dekade ke depan dengan berproduksinya lapangan lapangan baru dari lokasi laut dalam tersebut.
Terobosan shale gas di Amerika Serikat tidak terlepas dari pemicu yang membuat mereka menderita, yaitu: tingginya harga gas pada tahun 2005 serta kekhawatiran impor LNG akan terus meningkat pada saat itu. Padahal dari sisi insentif pajak, sejak tahun 1990-an sudah ada insentif untuk pengembangan migas non-konnvensional. Insentif saja rupanya tidak cukup. Perlu pemicu yang membuat orang menjadi was–was sehingga “terpaksa” menjadi kreatif dengan terobosan aplikasi teknologi dan lain lain.
Belajar dari pengalaman diatas, untuk kasus di tanah air, kelihatannya sekedar himbauan penghematan rasanya akan kurang effektif. Untuk urusan kebijakan energi, bangsa ini perlu pemicu yang mungkin pada awalnya tidak terlalu nyaman. Dalam posisi yang kepepet, dorongan kreativitas dan optimalisasi sumber daya dan usulan kebijakan seharusnya bukan lagi pada tatanan wacana tetapi sudah menjadi kewajiban yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Sehingga kita tidak hanya menjadi penonton dan semakin sangat tergantung terhadap impor energi di masa depan.
*)Analis Kebijakan Fiskal, Divisi Riset, OPEC, Wina.

(0) komentar
Berita Lain





