Ikhtiar untuk Bangkit
Harga bijih besi diperkirakan naik 70% pada 2010. Negeri Panda semakin bernafsu dan lapar. Tambang harus dibuka berdampingan langsung dengan pabrik pengolahan.
Keributan terjadi di China awal April lalu. Negeri Panda itu bersitegang dengan dua negara sekaligus, yakni Australia dan Brazil. Semuanya berawal ketika harga bijih besi meroket hingga 90%. Di pasar spot, harga bahan baku baja itu mencapai USD 190 per ton. Sementara China adalah negara dengan konsumsi bijih besi terbesar di dunia.
Kegalauan bertambah, tatkala tiga perusahaan pemasok utama bijih besi mereka, mengajukan skema kontrak baru. Mulai 1 April 2010, Rio Tinto dan BHP Billiton (Australia), juga Vale Do Rio Doce (Brazil), meminta harga dalam kontrak dievaluasi per tiga bulan. Permintaan itu dijawab dengan seruan boikot oleh CISA (China Iron & Steel Association).
Langkah Mundur Timah
Timah batangan jadi barang mainan spekulan. Perlu nilai tambah lebih untuk menyelamatkan harga. Ekspor slag dan timah paduan malah akan dibuka.
Joko Purwanto terlihat tidak terlalu sibuk pagi itu. Setumpuk koran nasional nampak baru dibaca, saat Kasubdit Pengawasan Operasi Produksi Minerba ini mempersilahkan Majalah TAMBANG duduk. ”Sorry, kemarin saya diundang rapat di Kementerian Perdagangan,” tuturnya saat ditemui pada Selasa, 15 Juni 2010 di kantornya, lantai 5 gedung Direktorat Jenderal (Ditjen) Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (Minerba Pabum), Jl Soepomo 10, Jakarta.
Nikel Menerjang Gelombang
Tahun 2009 mencatatkan masa suram bagi komoditas nikel. Fluktuasi harga masih akan berlanjut pada 2010. Perlu siasat ditengah badai.
Kabar kurang sedap mampir ke meja Redaksi, Senin, 22 Maret 2010. Salah satu perusahaan nikel terbesar di Indonesia, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), mengumumkan kinerja keuangan 2009 yang anjlok dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2009, produsen feronikel itu hanya mampu mencatatkan laba bersih Rp604,3 miliar. Turun 56% dibandingkan 2008 yang mencapai Rp1,386 triliun.
China Menggeliat, Konsumsi Biji Besi Dunia Meningkat
Pada 6 Juni lalu, dua perusahaan tambang papan atas dunia, BHP Billiton dan Rio Tinto sepakat melakukan join venture untuk membentuk anak perusahaan dengan nilai investasi sebesar US$10 milyar. Kedua perusahaan yang sebelumnya pernah diisukan akan merger ini memiliki kepentingan yang sama yakni mengamankan aset tambang bijih besi yang terletak di Australia Barat.
Komoditi 2008; Batubara Terbaik, Nikel Terburuk
Semester pertama 2008, harga komoditi pertambangan masih menunjukan performa menarik. Hal ini terlihat dari data CRB –Comomodity Research Beareau, lembaga riset komoditas internasional berbasis di London. Menurut lembaga tersebut, Commodities Index yakni indeks yang mengukur harga rata-rata 17 jenis komoditi pertambangan dan perkebunan dalam periode Januari sampai Juni 2008, harga rata-rata komoditas pertambangan melonjak tajam 29 persen.





.jpg)