TAMBANG TODAY

TAMBANG, 02 Februari 2013 | 17.10

Pasar Alat Berat Diyakini Segera Meningkat

TAHUN ini memang tahun yang muram bagi industry alat berat. Dua produsen besar alat berat, Caterpillar (Amerika Serikat) dan Komatsu (Jepang) sama-sama menderita: keuntungannya jauh terpangkas, akibat jebloknya sektor tambang di Indonesia. Namun diyakini, situasi kelabu itu sifatnya hanya siklus. Sebentar lagi sektor tambang akan kembali membaik.

Transparancy Market Research (http://www.transparencymarketresearch.com) pekan ini mengeluarkan hasil risetnya mengenai kecenderungan pasar alat berat, 2012-218. Menurut lembaga riset ini, pada 2012 pasar alat berat dunia nilainya US$ 71,5 milyar. Pada 2018 angkanya akan melejit menjadi US$ 117,0 milyar. Sebanyak 60% pasarnya berada di Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Silakan simak laporan lengkapnya di http://www.transparencymarketresearch.com/mining-equipment.html.

Pangsa alat berat terutama didominasi oleh aktifitas tambang di negara-negara berkembang. Proyek tambang bijih besi besar-besaran di Brazil, Rusia, Australia, dan Afrika, diduga akan membutuhkan alat berat dalam jumlah cukup besar.

Sebagian besar pangsa alat berat adalah peralatan untuk tambang di permukaan. Peralatan jenis ini pangsa pasarnya mencapai 37%, sebagian besar untuk menambang logam dan mineral. Tapi pertumbuhan terbesar adalah peralatan untuk membor. Peralatan yang juga bakal tumbuh cukup besar adalah perlengkapan yang digunakan untuk tambang bawah tanah.

Asia Pasifik menjadi pasar terbesar, sekitar 60% --separuh di antaranya untuk pasar Cina. Dua negara lain yang menjadi pangsa pasar cukup besar adalah India dan Indonesia.

Adapun pemain utama alat-alat berat ini tak bergeser: Caterpillar, Hitachi, Joy Global, Komatsu, Sandvick AB, dan Atlas Copco.

Sebetulnya di dunia terdapat lebih dari 650 perusahaan yang bermain di sektor alat berat. Sebanyak 50 di antaranya menguasai 80% pasar. Caterpillar merupakan pemain utama untuk peralatan pertambangan. Setelah itu menyusul Komatsu dan Hitachi Construction Machinery.

Untuk sementara, Indonesia baru bisa menjadi konsumen.