Suryana Miharja
suryana@tambang.co.id
Jadi sponsor klub besar seperti Manchester United (MU) bisa memunculkan dua pertanyaan dibenak publik, apakah Aon ingin mendongkrak popularitasnya lewat klub sepakbola itu atau justeru ingin menunjukkan kebesaran bisnisnya dibidang penyedia jasa terkemuka untuk manajemen risiko, pialang asuransi dan pialang reasuransi, serta konsultan SDM dan alih daya.
Logikanya, jika Aon Plc memang ingin mendongkrak popularitasnya maka bisa dipastikan bisnis Aon Plc akan tumbuh berkembang seiring makin dikenalnya perusahaan itu. Sementara itu, jika Aon Plc justeru ingin mengenalkan kebesaran bisnisnya maka Aon Plc memang lah sebuah perusahaan besar sebelum jadi sponsor MU.
Publik tentunya cukup mengerti, bahwa menjadi sponsor utama sebuah klub besar sekelas MU bukan perkara mudah mengingat besarnya dana yang dibutuhkan untuk melakukannya, sehingga jika sekedar mendongkrak popularitas dengan mendompleng nama besar MU untuk membesarkan bisnisnya, maka pertanyaan itu patut dikesampingkan.
Terutama ketika fakta saat ini menunjukkan bahwa Aon Plc, merupakan perusahaan pialang asuransi terbesar di dunia yang memiliki 62.000 karyawan dan 600 kantor yang tersebar di 120 negara. Pada tahun 2011 lalu, melalui tiga lini usahanya seperti Aon Risk Solutions di bidang pialang dan konsultan asuransi, Aon Benfield di bidang pialang reasuransi dan Aon Hewitt di bidang konsultan SDM berhasil mencatatkan pendapatan sebesar USD 11,3 miliar. Di Indonesia, Aon telah beroperasi sejak 1992 dan saat ini telah memiliki lebih kurang 5000 klien korporasi.
Sejak awal beroperasi, sektor pertambangan dan migas di Indonesia pun telah menjadi target Aon Plc, mengingat sektor ini dianggap dapat memberikan peluang besar bagi bisnis asuransi dan manajemen risiko perusahaan itu, karena sektor pertambangan dan migas tersebut adalah sektor usaha yang berisiko tinggi, karena menggunakan teknologi tinggi dengan biaya investasi yang mahal.
Manajemen asset merupakan salah satu pelayanan yang ditawarkan Aon Plc bagi kliennya di pertambangan dan migas, karena bagi Aon Plc tanpa manajemen asset yang baik, sebuah perusahaan akan kesulitan untuk mengelola dan mengoptimalkan penggunaan seluruh asset yang dimilikinya. Misalnya saja pengelolaan terhadap alat-alat berat yang dimiliki atau dioperasikan di daerah tambang yang jumlahnya sangat banyak. Asset tersebut akan dapat dioptimalkan penggunaannya jika ada pengelolaan yang baik, seperti tersedianya data detail mengenai penggunaan setiap alat. Karena dari data tersebut dapat diketahui dan direncanakan waktu yang tepat untuk melakukan pemeliharaan atau penggantian. Inventarisasi data yang akurat akan diperoleh dari kegiatan manajemen asset yang baik dan hal ini penting bagi manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.
Aon juga memandang bahwa dalam menerapkan kebijakan manajemen asset secara strategis harus melibatkan manajemen dan diimplementasikan secara komprehensif di semua departemen perusahaan yang jadi kliennya.
Lewat produk tersebut, Aon Plc mengklaim kliennya dapat mencapai efisiensi biaya yang accountable, menghindari pembiayaan yang tidak perlu, dapat mengambil keputusan penggantian asset secara tepat, menghindari kehilangan asset dan dapat menghitung nilai depresiasi serta mengasuransikannya secara efektif.
Dalam mendukung kiprahnya di bisnis pertambagan dan migas Indonesia, Aon Indonesia mengklaim perusahaan tersebut didukung oleh lebih dari 300 spesialis yang memiliki pengalaman dan kapasitas bertaraf global yang secara real time siap memberikan bantuan teknisnya kepada tim di Aon Indonesia dalam memberikan layanan jasanya kepada para klien atau prospek bisnisnya.
Salah satu nilai tambah yang bisa diraih klien Aon Indonesia, adalah bisa memanfaatkan sejumlah pengalaman yang dimiliki tim Aon di seluruh dunia untuk diterapkan sesuai keperluan, karena adanya benchmarking yang dibangun oleh perusahaan itu.
Selain memastikan bisnis klien terproteksi dalam jangka pendek, Aon juga melihat masa depan dari bisnis kliennya melalui program manajemen risiko dan asuransi yang sesuai dengan bisnis klien, sehingga dari waktu ke waktu total biaya risiko (total cost of risk) klien dapat diturunkan.
Selain manajemen asset, pialang asuransi pun jadi salah satu layanan yang turut ditawarkan Aon, meskipun dari sisi regulasi, di Indonesia memang tidak ada kewajiban bagi sebuah perusahaan untuk menutup asuransi melalu pialang asuransi, namun sebenarnya perusahaan dapat meraih sejumlah manfaat dengan melakukan hal tersebut. Karena dengan menunjuk pialang asuransi, maka klien akan mempunyai mitra yang bertindak untuk kepentingannya. Di sisi lain, pialang asuransi juga tidak menjadi kompetitor bagi perusahaan asuransi, akan tetapi menjadi mitra kerja yang sinergis. Pialang asuransi akan memudahkan pekerjaan perusahaan asuransi, baik dari sisi business maturity, maupun business acquisition cost. Klien pun tidak perlu khawatir adanya tambahan biaya, karena dalam konteks premi asuransi, penggunaan pialang asuransi tidak menyebabkan biaya menjadi lebih mahal, karena remunerasi pialang asuransi diperoleh dari komponen akuisisi bisnis yang menjadi salah satu komponen dalam struktur harga premi di samping biaya cadangan klaim, biaya operasional/ overhead dan profit. Artinya secara biaya, premi asuransi dengan penggunaan jasa pialang asuransi tidak menjadikan biaya lebih mahal, bahkan bisa lebih kompetitif, namun bisa meraih nilai tambah mulai dari adanya mitra kerja yang akan memberikan konsultasi aktif terkait dengan risiko-risiko yang dihadapi termasuk layanan manajemen risiko, proteksi cover asuransi yang lebih efektif sekaligus efisien, keberpihakan kepada kepentingan klien, independen kepada semua perusahaan asuransi, bantuan penyelesaian klaim dalam bernegosiasi dengan perusahaan asuransi dan penilai kerugian (loss adjuster).
Aon mengklaim, lewat dua pertanyaan sederhana, jawabannya dapat menjadi panduan bagi perusahaan itu untuk membantu kliennya, seperti disampaikan oleh Chief Executif Officer Aon Plc Greg Case dimana At Aon, two simple questions guide everything we do: What can I do to help a client? And what can I do the help colleague to help a client?